S3L@M@T D@T4N9
^_^

Senin, 05 Maret 2012

makalah teknologi benih


MAKALAH
TEKNOLOGI BENIH
logo umm 1.jpg
Oleh :
Amirullah S.
201110320311009
Yosei Kustri W.
201110320311033
KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN – PETERNAKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2011
KATA PENGANTAR
          Puji syukur kita panjatkan kepada kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmad dan hidayah-Nya kami mampu menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Makalah dengan judul “ Teknologi Benih “ disusun sebagai tugas dari Bpk. Agung Nurdianto S.Pd selaku dosen mata kuliah Bahasa Indonesia dan untuk memberikan pemahaman kepada pembaca.
            Pada kesempatan ini kami juga mengucapkan terima kasih kepada teman dan para anggota kelompok yang telah membantu pada pembuatan makalah ini.
            Kami menyadari bahwa makalah ini kamis susun masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan dengan tujuan agar makalah ini selanjutnya akan lebih baik.


Malang, 06 Desember 2011


                                                                           Penyusun







DAFTAR ISI
Kata pengantar .............................................................................                  2
Daftar isi ................................................................................            ...........             3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................                     4
1.2 Rumusan Masalah ....................................................                    5
1.3 Tujuan ....................................................................                      5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori .............................................................                      6
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Cara memperoleh benih dengan kualitas yang tidak jauh berbeda dari
indukan suatu tanaman .............................................                  7
3.2 Pengemasan Benih ...................................................                    9
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan .............................................................                     11
4.2 Pesam .....................................................................                      11
DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Indonesia merupakan negara agraris dengan kondisi wilayah yang sangat baik untuk bidang pertanian, hutan industri, dan usaha pertanian lainnya. Hal ini dapat dilihat dari pengembangan teknologi-teknologi pertanian seperti teknologi bibit baik pengelolaan sampai pembudidayaan sehingga mampu menghasilkan hasil produksi yang baik dan berkualitas.
Dalam konteks agronomi, benih dituntut untuk bermutu tinggi sebab benih harus mampu menghasilkan tanaman yang berproduksi maksimum dengan sarana teknologi yang maju (Sjamsoe’oed Sadjad, 1977, dalam Sutopo, 2002:2).
Pengelolaan benih telah berkembang sejak Perang Dunia II, dan baru berkembang di Indonesia pada tahun 1964. Untuk menuju kearah teknologi benih dibutuhkan analisa terlebih dahulu.
Di Indonesia dengan didirikannya Departemen Pertanian pada tahun 1905, merupakan usaha pemerintah untuk mempertinggi produksi tanaman rakyat lebih intensif antara lain dengan usaha benyebaran benih unggul khususnya padi. Sampai pada masa tersebut kalau diikuti perkembangan usaha pemerintah dalam membina masalah pembenihan dapat dikatakan belum berada dalam siklus teknologi benih yang sempurna.
Kepentingan untuk memenuhi perkembangan bidangteknologi benih dari hampir berorientasi pada varietas unggul semata menjadi berorientasi pula pada benih yang baik dan benar, mendesak untuk diciptakannya suatu metode, sebstrat, kondisi lingkungan, alat-alat dan evaluasi yang serba terstandaridisasi. Peranan teknologi benih khususnya dalam pengujian dapat menghasilkan suatu standard kualifikasi benih bagi berbagai tingkatan mutu benih.



1.2   Rumusan Masalah
a)      Cara memperoleh benih dengan kualitas yang tidak jauh berbeda dari indukan suatu tanaman?
b)      Metode yang digunakan agar benih yang didapat tetap terjaga kualitasnya atau pengemasan benih yang sudah jadi atau siap tanam?
1.3  Tujuan
Mengetahui cara memperoleh benih dari suatu tanaman dengan beberapa metode yang memudahkan untuk mendapatkan benih, serta untu memahaminya.
Mengetahui tentang pengolahan benih sehingga ketika tumbuh mampu menghasilkan tumbuhan atau tanaman yang berkualitas dengan tata cara penyimpanan atau pengepakan benih sehingga kualitas tetap terjaga dan mampu meningkatkan hasil produksi tanaman ketika benih itu tumbuh.













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
    Teknologi benih adalah suatu ilmu pengetahuan mengenai cara-cara untuk dapat memperbaiki sifat-sifat genetik dan fisik dari benih, yang mencakup kegiatan-kegiatan seperti pengembangan varietas, penilaian dan pelepasan varietas, produksi benih, pengelolaan, penyimpanan, pengujian serta sertifikasi benih (Feistrizer, 1975, dalam Sutopo, 2002:1).
    Benih adalah biji yang dipersiapkan untuk tanaman, telah melalui proses seleksi sehingga diharapkan dapat mencapai proses tumbuh yang besar (Anonymous, 2010).
     Menurut Sutopo, 2002:9, benih disini dimaksudkan sebagai biji tanaman yang dipergunakan untuk tujuan penanaman. Biji merupakan bentuk tanaman mini (embrio) yang masih dalam keadaan perkembangan yang terkekang.
     Biji sebagian besar selalu berkaitan erat dengan buah. Biji pada buah dapat ditemukan pada buah tunggal (buah berdaging, buah kering), dan buah majemuk (pada tanaman yang memiliki banyak putik contoh strawberry).







BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Cara memperoleh benih dengan kualitas yang tidak jauh               berbeda dari indukan suatu tanaman.
Bibit dari suatu tanaman berasal dari benih tanaman atau disebut benih. Benih dibutuhkan untuk menjaga kelangsuangan varietas dari suatu pohon, agar pohon tetap jumlah populasinya. Proses pengembangan benih berawal dari bibit dari suatu pohon yang memang sengaja dibiakkan untuk mendapatkan bibit yang sesuai.
Cara mendapatkan atau memanen benih paling baik pada saat benih masak fisiologis, karena pada saat itu benih berada pada kondisi puncak. Seperti halnya pemanenan benih dalam pengemasan benih jika dalam kondisi yang kurang memadai maka akan mempengaruhi kualitas benih. Tapi dari pemanenan yang sudah mencapai masak fisiologis masih ada proses yang harus dilewati lagi. Karena jika hal tersebut tetap dilakukan maka beniha akan cepat rusak dan mudah terserang hama penyakit.
Dalam pemanenan suatu benih dapat dilakukan dengan memetik buahnya, atau memotong tanaman secara keseluruhan misalnya pada tanaman padi, kedelai, kacang hijau, dan lain-lain. Tahap dalam proses mendapatkan benih berkualitas yaitu :
a)      Perontokan
Perontokan bertujuan untuk memisahkan benih dari bagian tanaman lain, misalnya tangkai malai, daging buah, dan kulit buah. Perontokan dapat dilakukan secara manual ataupun dengan menggunakan teknologi mesin perontok.
Metode yang digunakan dalam perontokan yaitu dengan metode manual maupun metode mekanis.

Metode manual :
1.      Dengan tangan
Biasanya digunakan pada tanaman tertentu seperti pada tanaman jagung.
2.      Dengan tongkat pemukul
Hasil panen dihamparkan pada suatu lantai yang lunak dan ditutupi dengan anyaman bambu lalu dipukul pada bagian atas dengan menggunakan tongkat. Pada penggunaan metode ini memiliki resiko kerusakan benih yang sangat besar. Biasanya digunakan pada tanaman kedelai dan kacang hijau.
3.      Dengan hewan
Hasila panen diletakkan pada suatu lahan dan membentuk lingkaran. Serta pada pusat dari lingkaran tersebut didirikan tiang sebagai tempat mengikatkan hewan atau sebagai pusat lalu hewan tersebut dibiarkan berjalan mengitari tiang tersebut.
4.      Menggilas dengan roda karet
Memiliki sistem yang sama seperti menggunakan metode dengan hewan.
Metode mekanis :
1.      Standart thresher
Digunakan untuk beberapa jenis benih misalnya serealia dan kacang-kacangan.
2.      Plot thresher
Digunakan untuk benih jenis tertentu dengan jumlah kapasitas sedikit.
b)      Pengeringan
Pengeringan benih dilakukan untuk mengurangi kadar air berlebihan pada benih hingga mencapai batas tertentu serta mampu mempertahankan kualitas benih terutama pada daerah dengan kelembapan yang tinggi.


c)      Pembersihan Benih
Bertujuan untuk memisahkan kotoran atau materi lain yang bercampur dengan benih, dapat dilakukan secara mekanis maupun secara manual, serta dapat juga sebagai proses pemisahan benih sehingga kualitas benih meningkat.

3.2 Pengemasan benih
Dalam menjaga kualitas benih yang diperoleh sangatlah dibutuhkan dalam suatu proses penyimpanan agar kualitas awal yang diperoleh tetap sama. Sebelum adanya pengemasan sebelum disimpan dalam suatu tempat harus melalui beberapa proses yaitu :
·         Melindungi benih dari serangan hama dan penyakit.
·         Perlindungan benih atau kecambah dalam pelaksanaan usaha tani.
·         Pelapisan benih (pelleting seed/coated seed). (Kuswanto, 2003:67-68).
Sebelum dibuat oleh manusia, alam juga telah menyediakan kemasan untuk bahan panganan khususnya, seperti jagung dengan kelobotnya, buah-buahan dengan kulitnya, buah kelapa dengan sabut dan tempurungnya, polong-polongan dengan kulit polongnyadan lain sebagainya. Manusia juga menggunakan kemasan untuk melindungi tubuh dari gangguan cuaca, serta agar tampak anggun dan menarik.
Dalam suatu proses dari suatu penghasilan produk baik makanan ataupun benih harus ada pengolahan produk sebelum sampai kepada konsumen dalah dengan melakukan pengemasan. Dasar dari pengemasan adalah bagaimana produk bisa sampai kepada konsumen atau pemakai atau ketika ingin dipakai dikemudian hari produk masih dalam keadaan baik.
Pengemasan disebut juga bungkusan, pewadahan atau pengepakan, dan merupakan salah satu cara pengawetan bahan hasil pertanian, karena pengemasan yang baik dan sesuai prosedur dapat memperpanjang umur simpan bahan. Jadi pengemasan adalah wadah atau pembungkus yang dapat membantu mencegah atau mengurangi terjadinya kerusakan-kerusakan pada bahan yang dikemas atau yang dibungkusnya.
Manfaat pengemasan dari teknologi ini yaitu :
1.      Memudahkan pengolahan benih.
2.      Memudahkan transportasi benih.
3.      Memudahkan penyimpanan benih dengan kondisi yang memadahi.
4.      Mempertahankan persentase viabilitas benih.
5.      Mengurangi deraan tekanan alam.
6.      Mempertahankan tekanan kadar air benih.














BAB IV
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dalam suatu proses penanaman atau tumbuhnya suatu pohon selalu ada bakal tumbuh atau yang sering dikenal dengan benih, kemudian tumbuh menjadi bibit yang siap ditanam.
     Dalam mendapatkan suatu bibit dibutuhkan suatu proses yang sedikit memakan waktu yang lama untuk menentukan kualitas akhir dari suatu benih.
3.2 Pesan
Makalah ini tidak luput dari kesalahan, maka dengan ini tim penyusun mengharapkan masukan dari bapak dan teman-teman semua yang bisa membangun bagi penulisan makalah ini sehingga kedepannya menjadi lebih baik.









DAFTAR PUSTAKA
-------. 2010. Definisi Benih. http://pengertian-definisi. blogspot. com/2010/10/ definisi-benih.html diakses tanggal 06 desember 2011.
Kuswanto, Hendarto. 2003. TEKNOLOGI PEMROSESAN PENGEMASAN & PENYIMPANAN BENIH. Yogyakarta: Kanisius.
Prasasto. 2008. Pengemasan. http://prasasto.blogspot.com/2008/09/pengemasan .html diakses tanggal 06 desember 2011.
Sutopo, Lita. 2002. TEKNOLOGI BENIH. Malang: PT. Raja Grafindo Persaja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar